Mari Berbisnis di Usia Muda

Menekuni dunia bisnis di usia muda bukanlah hal yang mustahil untuk dilakukan. Ini dibuktikan oleh seorang milyarder muda asal Amerika Serikat pendiri Facebook, Mark Zuckerberg. Ia menciptakan situs jejaring sosial Facebook bersama temannya saat masih berstatus mahasiswa pada tahun 2004. Siapa sangka tenyata bisnis yang dimulainya dibangku kuliah itu berkembang pesat hingga sekarang. Pada tahun 2010 ia bahkan dinobatkan sebagai Person of the Year versi Majalah Time. Apa yang dilakukan Zuckerberg menjadi inspirasi bagi banyak anak muda di seluruh dunia untuk mengikuti jejaknya.

Marceline Tania Agustine atau akrab disapa Tania (16 tahun) merupakan founder Tantan Pudding. Sejak 3 tahun yang lalu ia mendirikan sebuah bisnis makanan ringan berupa pudding. Dibantu oleh sepupunya, Virginia Trisha Carolin, ia menjalankan bisnis puddingnya. Di usianya yang terbilang muda, Tania sudah terpikir untuk melakukan inovasi pudding kreasinya. Saat  liburan, waktu luangnya ia gunakan untuk bereksperimen menciptakan berbagai macam rasa pudding. Hasilnya beragam rasa unik tercipta dan pastinya berbeda dengan pudding lainnya. Sebut saja raindow pudding dan oreo pudding yang menjadi favorit pelanggannya.

Kenny Kurniawan (14 tahun) dan Leonardo Kevin (14 tahun) adalah siswi kelas 3 SMP Anugerah Budi Pekerti, Surabaya, Jawa Timur. Mereka berdua mengembangkan makanan ringan berupa kripik siput. Berawal dari pelajaran tentang etika lingkungan yang didapatnya di sekolah, mereka kemudian melakukan riset mengenai manfaat dan kandungan nutrisi siput. Hingga akhirnya sejak 2 tahun yang lalu mereka mulai mengembangkan kripik siput. Untuk menarik pembeli, mereka juga melakukan inovasi berupa variasi rasa yaitu barbeque, balado serta lada hitam disamping rasa original yang sudah ada.

Di Pontianak, Kalimantan Berat, terdapat sekumpulan anak-anak yang memiliki hobi menggambar dan melukis yang tergabung dalam komunitas bernama Khatulistiwa Children Fun Art (Khachifa). Alyarosa Taqwaariva (14 tahun) dan Devita Mayanda Heerlie (9 tahun) tergabung di dalamnya, kemampuan mereka melukis sudah terbukti dengan banyaknya penghargaan yang mereka kumpulkan baik dari dalam maupun luar negeri. Untuk menyalurkan bakatnya melalui Khachifa, mereka kemudian mendirikan sebuah usaha berbasis lukisan. Supaya tidak membosankan, mereka kemudian melakukan inovasi dengan melukis tidak hanya di kanvas tetapi juga media lain seperti, kaos, tas, sepatu, dll. Tentu saja ini menjadi nilai lebih yang mereka tawarkan kepada pembeli. Karena pembeli tidak hanya mendapatkan lukisan yang indah namun juga dapat memakainya dalam bentuk pakaian dan aksesori lainnya.

Padatnya lalu lintas di Bogor, Jawa Barat membuat para pejalan kaki harus ekstra berhati-hati saat menyebrang jalan. Berawal dari kekhawatiran itulah kakak beradik, Trudy Johanna Layuk Allo (14 tahun) dan Sheenamarcia Aislin Layuk Allo (11 tahun) menciptakan sarung tangan yang difungsikan untuk menyeberang jalan dengan nama “My Orang Glove” yang disingkat Moggie. Penggunaannya sama dengan sarung tangan pada umunya. Namun sarung tangan ini selain memiliki warna yang terang; oranye, juga mempunyai manfaat agar saat menyeberang jalan mudah dilihat oleh pengendara mobil dan motor. Melalui Moggie, kakak beradik ini ingin mengkampanyekan keselamatan bagi pejalan kaki terutama bagi pelajar.

Dua kakak beradik lainnya yang juga sudah mulai berbisnis di usia muda adalah Surya Putra Wibisana (10 tahun) dan Sena Pratama Bagaskara (15 tahun). Memiliki hobi dan minat yang sama dibidang otomotif yang menurun dari ayahnya yang merupakan seorang kolektor mobil antik, mereka kemudian mendirikan The Old’z sejak tahun 2008. Bisnis ini bergerak dibidang jual beli  spare part dan aksesoris otomotif kuno seperti replika mobil, brosusr hingga buku manual mobil kuno. Barang-barang yang mereka jual kebanyakan sudah tidak di produksi lagi dan menjadi nilai jual yang mereka tawarkan kepada pembeli. Baik Sena maupu Wibi merasa optimis dengan prospek bisnis yang mereka jalankan kedepannya.

Tidak kalah unik dengan pernak-pernik kuno. Ternyata ada produk lainnya yang juga memiliki nilai bisnis cukup tinggi yaitu produk kerajinan daur ulang sampah kemasan plastik. Green Queen adalah usaha berbasis daur ulang plastik yang didirikan oleh Masayu Amira Dhiya Nabila (14 tahun) dan Maria Jacklyn Briyani Patty (13 tahun). Dua saudara sepupu ini begitu peduli terhadap lingkungan dan gigih mengelola limbah plastik. Dari keterampilan tangan mereka tercipta berbagai kerajinan tangan berupa tas, tempat pensil, karpet, topi dan bahkan sepatu berbahan dasar limbah plastik. Sampah-sampah plastik yang tadinya tidak memliki arti dan hanya mencemari lingkungan berubah menjadi produk yang bermanfaat dan memiliki nilai jual. Usaha yang mereka dirikan sejak tahun 2009 ini tetap bertahan hingga sekarang disela-sela kesibukan mereka sebagai pelajar.

Apa yang dilakukan oleh narasumber Kick Andy mungkin masih jauh dari pencapaian seorang Mark Zuckerberg. Namun dari mereka kita dapat belajar bahwa usia tidak menjadi  penghalang untuk memulai bisnis. Meskipun mereka masih berstatus pelajar namun kemauan mereka untuk berkecimpung di dunia bisnis sejak dini bisa menjadi modal mereka kedepannya. Yang terpenting adalah terus belajar dan mau bekerja keras. Bukan tidak mungkin diantara mereka ada yang menjadi enterpreneur sukses di masa depan.

sumber: http://kickandy.com/

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: